prim@rifah


Selasa, 13 November 2012

TANYA JAWAB FILSAFAT

1.    Setiap kelompok masyarakat pastilah memimpikan pemimpin yang bijaksana. Apakah kriteria orang bijaksana?
Tidak ada manusia di dunia ini yang benar-benar bijaksana sebab sebenar-benar bijaksana adalah Tuhan. Manusia hanya mampu menggapai bijaksana. Salah satu cara agar orang bisa bersikap bijaksana adalah dengan belajar filsafat. Filosofi bijaksana menurut pandangan orang barat dan orang timur memiliki perbedaan. Menurut orang barat, orang yang bijaksana adalah orang yang berilmu, sedangkan menurut orang timur, orang yang bijaksana adalah orang yang berilmu serta memiliki rasa dan karsa. Tujuan utama berfilsafat menurut orang timur adalah menjadi bijaksana dan menghayati kehidupan, dan untuk itu pengetahuan harus disertai dengan moralitas. Pengetahuan akan kebenaran selalu berkaitan dengan kebijaksanaan dan mengandung dua unsur, yakni pengetahuan akan kebaikan tertinggu dan tindakan untuk mencapai kebaikan tertinggi. Pengetahuan dan tindakan haruslah hadir di dalam diri seorang yang bijaksana.

2.    Indonesia merupakan salah satu negara yang menjunjung tinggi agama, Indonesia juga merupakan negara yang memiliki banyak sekali suku bangsa dengan budayanya yang berbeda-beda. Bagaimanakah cara untuk menyelaraskan hubungan antara agama dengan budaya?
Agama mengatur hubungan Tuhan dengan ciptaannya sedangkan budaya mengatur hubungan manusia dengan sesamanya. Di dalam agama memuat budaya sedangkan di dalam budaya kita tidak akan menemukan agama. Oleh karena itu, mereka yang beragama mudah bila ingin menciptakan suatu budaya atau kebudayaan. Sedangkan mereka yang hanya berbudaya maka mereka tak mengenal Tuhan.

3.    Tidak dapat dipungkiri bahwa reputasi pendidikan di Indonesia tercoreng karena budaya mencontek yang terus ada dari masa ke masa. Bagaimana cara untuk mengatasi fenomena budaya mencontek?
Kebiasaan mencontek memang dianggap wajar oleh siswa atau pun mahasiswa sekalipun. Padahal, telah disadari bahwa mencontek merupakan tindakan yang tidak terpuji dan merupakan suatu pertanda dari ketidak mampuan seseorang dalam menyelesaikan sesuatu hal. Akan tetapi, seperti yang terlihat saat ini, banyak orang yang menghalalkan mencontek, apabila ditinjau dari filsafat moral atau etika, ini merupakan fenomena keputusan atau tindakan seseorang yang tidak didasari pertimbangan kesesuaian dengan norma dan persetujuan hati nurani. Jadi orang yang mencontek, mempunyai suatu motivasi tertentu, misalkan ingin mendapat nilai bagus, kemudian orang yang mencontek karena melihat situasi dan kondisi sekitar, misal seseorang berani mencontek karena pengawasan yang lemah, dan hal ini berpengaruh pada seseorang dalam memahami bentuk perbuatan tersebut, yakni mencontek dianggap sebagai sesuatu yang biasa, dan mereka juga melihat dampak secara langsung, yakni berhasil mendapat nilai bagus, akan tetapi sesungguhnya orang yang mencontek adalah orang yang mengabaikan norma dan hati nurani. Budaya mencontek di kalangan siswa dapat diatasi guru dengan cara melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri. Siswa dapat mencontek itu berarti guru memberikan celah bagi siswanya untuk melakukan hal tersebut. Guru hendaknya memperbaiki cara mengajarnya sehingga model pembelajaran yang digunakan disukai oleh siswa dan materi yang disampaikan mudah dipahami oleh siswa.

4.    Bagaimanakah menghilangkan subjektivitas dalam penilaian?
Penilaian yang dilakukan seseorang cenderung subjektivitas artinya tergantung siapa dulu yang menilai. Penilaian yang tidak subjektive jika menggunakan teknologi atau alat penilaian yang valid. Subjektivitas dari guru tidak dapat dihindarkan dalam penilaian. Suatu contoh, seorang guru yang terlalu banyak mengoreksi karangan cepat merasa lelah sehingga tidak cermat lagi dalam membaca tulisan peserta didik, akibatnya, tidak terjadi konsistensi penilaian. Hal-hal lain seperti impresi awal dapat pula menyebabkan penilaian tidak konsisten sehingga menimbulkan ketidakadilan bagi peserta didik. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi subjektivitas penilaian. Pertama, penilaian inter-rater, yaitu lebih dari satu orang memberikan penilaian terhadap naskah yang sama. Kedua, adalah dengan menetapkan benchmark, yaitu sampel kinerja yang berfungsi sebagai standar yang dipakai untuk menilai sampel kinerja lainnya.

5.    Bagaimana cara kita membangkitkan kreativitas para siswa?
Sebagi seorang guru, kita bukan mengajarkan tetapi memfasilitasi siswa yang belajar matematika. Guru bertindak sebagai fasilitator bukan mengajar saat proses kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. Cara untuk membangkitkan kreativitas siswa dalam belajar maka berawal dari kita sendiri sebagai guru yang harusnya kreatif. Anak memiliki kecenderungan untuk meniru orang tuanya maka tak ubahnya ketika seorang guru kreatif maka siswanya pun termotivasi dan berkeinginan untuk mau kreatif. Syarat dasar kreatif adalah merdeka. Tidak merdeka berarti tidak kreatif. Contoh: ketika seorang mahasiswa takut dengan dosen, maka ia menjadi tidak kreatif. Tetapi kalu dia tidak takut dosen, bias dikatakan bahwa dia kurang ajar.

6.    Mengapa mahasiswa pendidikan matematika harus mempelajari filsafat?
Mahasiswa pendidikan matematika adalah calon guru matematika dan seorang guru matematika hendaknya tidak hanya hafal rumus. Jika seorang guru matematika mendidik siswa dengan hanya menghapal rumus, itu namanya mitos. Guru harus mengetahui makna dari setiap materi yang diajarkan kepada siswa, sehingga siswa juga dapat memaknai setiap materi yang disampaikan oleh guru. Begitulah mengapa mahasiswa pendidikan matematika harus mempelajari filsafat.

7.    Apakah tujuan utama mempelajari filsafat?
Tujuan mempelajari filsafat adalah untuk bisa menjadi saksi. Mempelajari filsafat pendidikan matematika untuk menjadi saksi tentang pendidikan matematika. Tidaklah mudah menjadi saksi itu. Jika ada praktek-praktek pembelajaran matematika yang tidak sesuai dengan hakekat matematika dan engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu maka engkau telah gagal menjadi saksi. Itu hanyalah satu contoh saja,

8.    Kapan kita bisa yakin bahwa hati kita sudah cukup bersih untuk mulai berfilsafat?
Tidak ada patokan awal untuk mempelajari filsafat. Seperti pada Adil, kita hanyalah berusaha untuk membuaut hati kita bersih. Konsep awal (memulai) itu sering diabaikan namun terkadang menentukan segala-galanya. Dalam filsafat, awal itu merupakan fondasi yang mengembangkan pemikiran-pemikiran selanjutnya.

9.    Bagaimanakah cara berfilsafat yang baik dan benar?
Ketika pertanyaan lain muncul mengenai tata cara berfilsafat yang baik dan benar, dapat dikatakan bahwa cara paling bagus dalam berfilsafat adalah berinteraksi atau terjemah dan menterjemahkan pemikiran orang lain yang berguna membangun filsafat kita sendiri.  Tidak ada seorang filsuf pun yang tidak terpengaruh orang lain karena hidup kita tidak terisolasi. Ketika kita mau berusaha untuk mengidentifikasi sesuatu, maka kita akan tahu itu membangun atau merusak. Sama halnya dalam berfilsafat, ketika kita mau berfikir kita akan tahu ide-ide yang muncul akan membangun ataukah merusak pemikiran kita.

Proses berfikir sebenarnya merupakan proses mencari keseimbangan dan untuk mengimbanginya kita pun tidak boleh terlepas dari doa-doa kita terhadap Tuhan. Karena berfilsafat merupakan pola pikir manusia yang refleksif, maka dapat dikatakan hanya seseorang yang mau berfikirlah yang dapat mempelajari filsafat. Bagaikan aliran sungai, filsafat itu semakin ke hulu semakin jernih (semakin universal) dan semakin ke hilir semakin kontekstual (seperti pelaksanaan norma dalam kehidupan seseorang dengan seseorang yang lain). Pemikiran kita memang akan dipengaruhi oleh pemikiran orang lain. Namun, filsafat kita adalah filsafat hasil dari originalitas pemikiran kita (akibat pencarian pure reason). Yang pasti, agar kita dapat memulai berfilsafat yang baik dan benar, kita harus menaati norma-norma yang telah disepakati

10.    Apakah manfaat filsafat?
Ketika kita berbicara manfaat berfilsafat itu akan sama artinya dengan apa manfaat berpikir. Sehingga dapat dikatakan pula bahwa orang yang tidak mau belajar filsafat sama dengan orang yang tidak mau berpikir (mati pikiran).  Manfaat filsafat bagi para pelaku di lingkup pendidikan matematika adalah memikirkan apa yang ada dan yang mungkin ada dalam Pendidikan Matematika.
(PRIMANINGTYAS_09313244004 & OKTAVIANA MUTIA_09313244003)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar