prim@rifah


POEM


Dimana kegaduhan dan kebisingan syahdu
Dimana belajar yang selalu diselingi senda gurau
Dimana masa kanak-kanak yang semarak
Dimana boneka dan buah-buahan yang berserakan di atas lantai

Dimana rengekan tanpa tujuan
Dimana pengaduan tanpa sebab
Dimana tangis dan tawa, duka dan ceria
Yang timbul secara bersamaan

Diman perebutan untuk duduk disampingku
Ketika mereka akan makan dan minum
Mereka saling berdesakan untuk duduk di sisiku
Dan dekat denganku dimana saja mereka bergerak

Dengan dorongan fitrah,
Mereka menghadap denganku
Pada saat mereka takut dan senang
Ketika mereka riang senandung mereka adalah bapak

Ketika mereka marah, ancaman mereka adalah bapak
Ketika mereka jauh, bisikan mereka adalah bapak
Ketika mereka dekat, ratapan mereka adalah bapak
Kemarin mereka memenuhi rumah kita

Sayang mereka telah pergi
Seakan-akan kesunyian menimpakan bebannya
Yang berat ke dalam rumah ini
Ketika mereka pergi

Sunyi rumah ibarat tenangnya orang sakit
Seisi rumah diselimuti kesedihan dan kesalahan
Mereka telah pergi
Ya, mereka telah pergi

Namun, tempat tinggal mereka adalah hatiku
Mereka tidak jauh, tidak pula mereka dekat
Kemana saja jiwaku yang berpaling
Ku selalu melihat mereka

Kadang mereka diam
Kadang merak lompat
Didalam benakku,
Di dalam rumah yang tak pernah mengenal lelah ini, masih kurasakan senda gurau meraka

Masih kulihat pancaran sinar mata mereka
Ketika mereka berhasil
Masih kulihat linangan air mata mereka
Ketika mereka gagal

Di setiap sudut rumah mereka tinggalkan suatu kesan
Disetiap pojok rumah, mereka tinggalkan kegaduhan

Aku melihat mereka
Pada kaca-kaca jendela yang mereka pecahkan
Pada dinding-dindidng yang mereka lubangi
Pada pegangan pintu yang mereka patahkan
Pada daun pintu yang mereka gambari
Pada piring-piring sisa makanan mereka
Pada bungkus permen yang mereka lemparkan
Pada belahan apel yang mereka sisakan
Pada lebihan air yang mereka tumpahkan

Keman saja matakuku memandang
Aku selalu melihat mereka
Bagaikan sekumpulan burung dara yang terbang melayang
Kemarin mereka singgah di Kornail
Sekarang mereka berada di Halab

Air mataku yang aku tahan dengan tabah
Ketika mereka bertangisan pada saat mereka pergi
Hingga ketika mereka bertolak
Mereka telah merenggut jantung dari rongga dadaku
Kudapati diriku bagai seorang bocah
Yang penuh dengan perasaan
Air mataku jatuh bertumpah bagaikan air bah

Kaum wanita akan merasa heran
Bila melihat seorang lelaki menangis
Namun lebih heran lagi jika aku tidak menangis
Tak selamanya tangis itu cengeng
Aku seorang bapak
Aku punya keteguhan sebagai kaum lelaki

Aku dapet puisi ni dari buku bapakq,,,,, menurutq ni puisi bagus bgt,,,, mgkn kyk gt jg prasaan ortu qt kalo qt tinggal