prim@rifah


Minggu, 09 Januari 2011

Refleksi Perkuliahan Psikologi Pendidikan Matematika

Refleksi Perkuliahan Psikologi Pendidikan Matematika

Pada semester tiga, saya mengikuti mata kuliah Psikologi Pendidikan Matematika yang diampu oleh Bapak Marsigit. Pada masa awal mengikuti perkuliahan ini saya sedikit binggung sebab menurut saya, pada waktu itu, psikologi merupakan ilmu yang tidak pasti. Tapi lama kelamaan saya mulai tertarik untuk mengikuti mata kuliah ini. Banyak hal yang saya pelajari dari perkuliahan ini, tidak hanya mengenai psikologi tapi juga hal-hal lain yang membuat saya berpikiran terbuka.

Mengikuti perkuliahan ini saya menjadi tahu bahwa banyak pertemuan-pertemuan internasional yang rutin diadakan untuk membahas persoalan mengenai pendidikan matematika. Ternyata pendidikan, terutama pendidikan matematika, sangat diperhatikan. Inovasi dan perbaikan pendidikan matematika selalu muncul. Berbagai metode mengajar matematika juga terus dikembangkan.

Pada masa-masa awal perkuliahan Bapak Marsigit banyak memberikan kami pandangan mengenai perbedaan penggunaan metode tradisional (transfer of knowledge) dan metode modern (to facilitate) dalam proses pembelajaran.

Dalam metode tradisional, guru mengajar menggunakan metode transfer of knowledge. Guru menjadi pusat dalam kegiatan belajar mengajar, guru sangat aktif sedangkan siswa sangat pasif. Fungsi guru dalam metode ini adalah menjelaskan, memberi contoh, memberi tugas, dan memberi PR. Siswa hanya mendengarkan penjelasan dari guru, guru hanyalah satu-satunya sumber pengetahuan siswa. Siswa harus mengikuti semua perkataan gurunya. Guru dipandang sebagai yang paling benar, siswa harus tunduk kepada guru. Dengan penggunaan metode tradisional, siswa sulit untuk mengembangkan pengetahuannya sendiri. Dalam metode tradisional, pendidikan dipandang sebagai investasi.

Dalam metode modern, peran guru hanya untuk memfasilitasi siswanya untuk membangun pengetahuannya sendiri. Guru dalam metode ini memberikan dorongan dan bantuan kepada siswanya. Dalam penerapan metode ini diperlukan peran aktif siswa, jika seorang siswa hanya menunggu apa yang diberikan oleh gurunya maka ia akan tertinggal dari teman-temannya yang lain. Siswa bebas mengambil referensi, mereka bebas belajar dari manapun asalkan hal tersebut masih pada jalur yang benar. Siswa mandiri dalam belajar. Dalam metode modern, pendidikan dipandang sebagai suatu kebutuhan.

Setelah mengetahui perbedaan metode modern dan tradisional dalam proses pembelajaran, pikiran saya menjadi terbuka bahwa penggunaan metode tradisional mengekang siswa untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Siswa menjadi kurang mandiri dan bergantung pada guru. Sedangkan pada metode modern siswa cenderung mandiri dan aktif dalam membangun pengetahuannya.

Sayangnya sekarang ini masih banyak guru di Indonesia yang menerapkan metode tradisional dalam proses belajar mengajar. Hal ini tentu merugikan siswa, sebab siswa menjadi terkekang. Untuk mengubah cara mengajar guru yang terbiasa menggunakan metode tradisional, paradigma guru tersebut harus diubah, sebab paradigma mempengaruhi cara berpikir dan bertingkah laku seseorang.

Bapak Marsigit juga membuka pikiran saya mengenai hakekat seorang guru, bagaimana seharusnya guru memperlakukan siswanya, guru tidak boleh semena-mena dalam memperlakukan siswanya. Guru harus menghormati siswanya, sebab seorang siswa juga manusia yang mempunyai perasaan. Mereka juga bisa merasa marah dan sebal jika diperlakukan secara tidak baik. Siswa merupakan anak-anak yang masih mencari jati dirinya, maka tugas seorang guru bukan hanya mendidik tapi juga memotivasi mereka untuk menjadi yang lebih baik.

Seorang guru tidak boleh menjadi mesin yang hanya bisa melakukan hal yang sama dan di ulang terus menerus. Agar tidak menjadi mesin maka guru harus mengubah cara mengajarnya, misalnya dari menggunakan metode ekspositori menjadi menggunakan metode diskusi. Seorang juga guru harus sering mengikuti seminar, pelatihan, workshop, dan kegiatan lainnya yang bisa meningkatkan kinerjanya sebagai seorang guru. Guru harus bisa membuat inovasi dalam proses pembelajaran matematika. Hal ini penting agar seorang guru bisa mengikuti perkembangan anak, sehingga tidak dianggap jadul oleh siswa-siswanya. Dengan begitu siswapun tidak akan merasa bosan dalam proses pembelajaran.

Seorang guru juga harus bisa memahami siswanya dari segi psikologi. Psikologi seorang anak didik dapat dilihat dari tingkah laku dan lingkungan tempat ia dibesarkan. Untuk mengetahui psikologi seorang anak dapat digunakan metode tanya jawab maupun metode angket. Jika guru memakai cara mengajar yang biasa tidak mungkin guru tahu apa yang terjadi pada siswanya, untuk itu harus ada interaksi yang baik antara guru dengan muridnya. Guru tidak bisa seratus persen memahami dan mendidik murid sebab ”There is no the best way to educate”. Siswa harus belajar sesuai kebutuhan, bukan berdasarkan bakatnya.

Teori kemampuan siswa antara lain:
Bakat dan usaha
Bakat dan pengembangan
Kebutuhan
Berkaitan dengan budaya dan hubungan kerabat

Teori belajar antara lain:
Kerja keras, latihan, mengingat
Berpikir dan latihan
Memahami dan menerapkan
Eksplorasi
Diskusi dan mandiri

Teori mengajar antara lain:
transfer pengetahuan
motivasi dari luar
memberi penjelasan
membangun
diskusi dan investigasi

Bapak Marsigit juga menjelaskan bahwa matematika di bagi menjadi dua macam: Matematika Formal dan Matematika Sekolah. Matematika formal adalah matematika yang digunakan oleh para teknisi, arsitek dan yang lainnya. Sedangkan apa yang diajarkan guru kepada siswa termasuk dalam golongan matematika sekolah. Matematika sekolah pada dasarnya ada dua macam:
Di dalam pikiran (Superserve), yang sifatnya koheren, dan termasuk matematika realistik yang bersifat vertikal. contohnya bentuk dari tiga adalah 3, bentuk dari sepertiga adalah ⅓
Di luar pikiran (Subserve), yang bersifat riil, fisik, konkrit, koresponden, dan termasuk matematika realistik yang bersifat horisontal. Contohnya roti untuh adalah 1, setengah bagian dari roti adalah ⅟₂.

Pada matematika sekolah, matematika dipandang sebagai:
kegiatan penelusuran pola dan hubungan
kreativitas yang memerlukan imajinasi, intuisi dan penemuan
kegiatan problem solving
alat berkomunikasi

Hakekat siswa belajar matematika adalah:
Mandiri
Kerjasama
Kontekstual
Motivasi

Mathematical Thinking (Katagiri,2004):
Mathematical attitude
Mathematical method
Mathematical content

Tujuan dari pendidikan matematika adalah:
Back to basic (arithmatics)
Certification
Transfer of knowledge
Creatifity
To develop people comprehensive through mathematics.

Ketika siswa merasa siap dengan matematika, maka matematika adalah sesuatu yang menarik dan mengagumkan. Mereka akan menyukai matematika, mereka akan terus tertantang dengan matematika karena matematika seperti teka-teki yang siap untuk dipecahkan. Setiap persoalan matematika pasti memiliki jawaban.

Namun ketika siswa tidak siap dengan matematika, maka matematika menjadi suatu bencana yang akan terus dihindari. Jika pada pendidikan dasar siswa tidak memahami matematika, menganggap matematika sebagai bencana, maka seterusnya sampai tingkat atas mereka akan menganggap matematika sulit. Maka diperlukan dasar yang kuat untuk memahami matematika.

Ada satu hal yang menarik dari matematika. Matematika merupakan bahasa internasional yang benar-benar internasional, sebab di belahan dunia manapun matematika tetaplah sama, baik angkanya, operasinya, notasinya. Bukti kecil dari matematika sebagai bahasa internasional adalah ketika orang ke luar negeri dan ingin membeli ataupun menawar barang di salah satu pasar di sana tapi ia tidak menguasai bahasa daerah itu, maka ia bisa menggunakan kalkulator untuk melakukan transaksi.

Bapak Marsigit juga sering memperlihatkan video-video tentang psikologi kepada kami. Beberapa video yang pernah diperliahatkan kepada kami antara lain video mengenai Self Actalization, Motivation, Understanding Stress, dan Stress Management.
Video mengenai self actualization menjelaskan bahwa semua orang memiliki potensi besar untuk bisa menjadi sesuatu yang mengagumkan tapi biasanya potensi itu tetutupi oleh masalah-masalah dalam hidupnya. ”what men can be, he must be, this need we call self actualization”. Untuk memahami self actualization, seseorang harus bisa memahami dirinya sendiri.
Video mengenai motivation menjelaskan bahwa ada empat teori motivasi: instinct teory menjelaskan bahwa manusia termotivasi karena kebiasan manusiawinya misal makan ketika lapar, tidur ketika mengantuk; drive-reduction teory menjelasakan bahwa motivasi akan luntur ketika seseorang telah mendapatkan apa yang dia inginkan, misalnya keinginan untuk makan sate akan luntur ketika kita sudah selesai makan sate; arousal teory menjelaskan bahwa jika stimulasi terlalu tinggi malah akan menurunkan motivasi; incentive teory menjelaskan bahwa motivasi datang karena ada rangsangan, misalnya ketika mencium aroma roti, seseorang ingin memakan roti.
Video mengenai undestanding stress menjelaskan mengenai faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi seseorang untuk stress. Faktor-faktor tersebut antara lain
Dietary Influences
Lifestyle Influences
Cognitive Filter
Nutritional Gap
Trigger Factor
Toxic Influences

Video mengenai stress management menjelaskan bahwa ada tiga langkah untuk memanage stress, yaitu mengetahui apakah kita stress, kemudian lihat stressnya, dan identifikasi penyebab stressnya. Video ini juga menjelaskan bagaimana cara untuk mengurangi stress. Stress dapat dikurangi dengan cara meditasi, pijat, berdoa, mengerjakan sesuatu yang menyenangkan, dan tertawa. Sedangkan cara untuk mengatasi stress dengan tidur yang cukup, berdoa, berpikir dan melakukan hal-hal yang positif, serta menjaga hubungan yang sehat dengan siapa saja.

Banyak hal yang saya dapatkan dari perkuliahan Psikologi Pendidikan Matematika. Saya merasa lebih mengenal pendidikan matematika dan lebih menyukai dunia pendidikan.

(PRIMANINGTYAS NUR ARIFAH/09313244004/INTER MATH EDU)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar