prim@rifah


Minggu, 25 September 2011

KULIAH BAHASA INGGRIS PENDIDIKAN MATEMATIKA 1 (11)


PHILOSOPHICAL EXPLANATION ON MATHEMATICAL
EXPERIENCES OF THE FIFTH GRADE STUDENTS
Oleh: Dr. Marsigit, MA
Ikhtisar oleh: Primaningtyas Nur Arifah (09313244004)

Tingkat diskusi filsafat memiliki karakteristik seperti kebutuhan untuk cross-check serta membandingkan dengan beberapa sudut pandang dengan bebas, untuk membangun teori umum subjek terkait. Mackenzie, J.S, (1917), menyatakan bahwa untuk membangun teori umum, filsafat harus memperhitungkan hasil umum dari penyelidikan semua ilmu.
Dalam skema Greimas’ Hermenetics Structural Analyses, siswa dimasukkan ke dalam pusat kegiatan belajar mengajar matematika; guru memiliki peran sebagai 'pengirim' serta 'pendukung', sedemikian rupa sehingga siswa mereka mempelajari materi fisik sebagai obyek belajar; 'transaksi' antara guru dan siswa terjadi jika ada motivasi siswa untuk mempelajari benda-benda fisik; 'kendala' yang perlu dipertimbangkan dan harus diantisipasi serta perlu di temukan solusi yang sedemikian rupa adalah siswa dapat berinteraksi dengan materi fisik; para 'anti-subjek' muncul jika ada kendala sangat besar seperti penindasan, kecelakaan yang tidak diharapkan, dll sedemikian rupa sehingga siswa tidak mampu berinteraksi dengan benda fisik matematika mereka; 'Penerima' adalah orang-orang atau para agen yang mengambil manfaat dari interaksi para siswa dengan objek mereka, karena itu, siswa sendiri dapat merasakan sebagai 'penerima',
Menurut Kant, ‘akan terpengaruh sesuatu' adalah mengalami efek dari sebuah objek pada kemampuan representasi (ibid, hal. 29). Kant mengemukakan dua jenis benda yang mempengaruhi subjek: hal yang ada 'dalam diri mereka sendiri' yang mempengaruhi diri, dan ada 'penampilan dalam diri mereka sendiri' yang bertindak atas sensibilitas kita dan terpisah dari karakteristik apapun yang melekat pada reseptor sensorik kita (Werkmeister, W.H, 1975). Kant mendriskipsikan kasih sayang sebagai pengalaman dari 'efek' sebuah objek yang mengenai alat indra kita. Kant menegaskan bahwa 'ruang' dan 'waktu' adalah bentuk perasaan kita, apa yang mempengaruhi sensibilitas kita adalah sebuah benda yang memiliki karakteristik 'ruang' atau 'sementara' yaitu suatu fenomenal objek.
Status pengetahuan matematika siswa yang dihasilkan dengan memanipulasi bahan fisik, dalam skema Greimas 'Hermenetics Struktural Analisis. Jika perbedaan antara dua jenis persepsi masih mitos, maka kita masih bisa berdebat pada status pengetahuan matematika. Beberapa bahan manipulatif dapat mengacau dan disalahartikan; hal ini dapat dijelaskan dengan teori doubleaffection karena fakta bahwa para guru sudah akrab dengan konsep-konsep yang disajikan. Gagasan Kant tentang pandangan dalamnya sendiri dan hal dalam diri mereka sendiri berguna untuk menjelaskan masalah visibilitas. Penulis menekankan bahwa konteks yang berbeda, yaitu dalam jangka waktu dan ruang seperti yang diberitahukan oleh Kant, mungkin mempengaruhi persepsi tentang siswa objek. Oleh karena itu, guru perlu menggunakan faktor-faktor semacam itu sebagai pendukung dalam proses belajar mengajar matematika. Hubungan antara fitur perangkat dan target pengetahuan dibahas dengan sangat intensif oleh Kant dalam Critical of Purem Reason. Teori umum dari aspek proses belajar mengajar matematika adalah untuk mengejar dalam jangka waktu hubungan siswa sebagai subjek dan materi fisik sebagai objek dalam skema Greimas 'Hermenetics Struktural Analisis. Upaya untuk mengejar hubungan tersebut akan menentukan tingkat kualitas tampilan titik filsafat.

KULIAH BAHASA INGGRIS PENDIDIKAN MATEMATIKA 1 (10)


Pembudayaan Matematika di Sekolah
Untuk Mencapai Keunggulan Bangsa
By Dr. Marsigit, MA
Summary by Primaningtyas Nur Arifah (09313244004)

Civilize of mathematics in school is the range between awareness of the existence of multiple dimensions of mathematics, learn and develop attitudes that supported by knowledge of the methods and mathematics content, so obtained the skills to perform mathematical activities, till variety of experiences and activities studied mathematics obtained and present it in various forms in accordance with its dimensions. Civilize mathematics at school have an understanding aspects of the nature of mathematics, the nature of mathematics school, the nature of mathematics education, the nature of the mathematics value, the nature of studying mathematics, the nature of mathematics teaching and learning process, the nature of school mathematics civilize.
The emphasize of civilize of mathematics in school are the dimensions of human relationships and esteem both individual differences in ability and experience. Mathematics seen more humane, it can be considered as language, human creativity. Students has the right of individuals to protect and develop themselves and their experiences according to its potential. Learning theory based on the assumption that every student is different each others in the mastery of mathematics. There are some oppinion that Students has different mental preparedness and different abilities in learning mathematics. Therefore each individual need the opportunity, treatment, and the different facilities in the studying mathematics.
Civilizing mathematical learning has implications to teacher function as a good facilitator so that students can learn mathematics optimally. Students are the center of learning mathematics. Students work on different mathematics activities with different target. Teachers have three main functions: as a facilitator, as a source teaching and monitoring students' activities. Thus, teachers can develop variance learning methods: lectures, discussions, giving assignments, seminars, etc.
To be able to civilizing mathematics cultivate is needed an understanding of the meaning of mathematics in various dimensions. Dimensional mathematical meaning can be seen from the side dimensional mathematical of concrete objects and mathematical dimensions of mind objects. Mathematical communication includes materials communication, formal communication, normative communication and spiritual communication. Related with learning mathematics then more suited to define mathematics as school mathematics, but for college-level mathematics we define as formal mathematical or axiomatic. Mathematics civilizing contribute to the nation excellence through conducted an continuous mathematical learning innovation. In relation to obtaining the nation benefits then we can think of mathematics, learning mathematics and mathematics education at different hierarchy level or the level of intrinsic, extrinsic or systemic.

KULIAH BAHASA INGGRIS PENDIDIKAN MATEMATIKA 1 (9)


PERSOALAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH
By: Dr. M a r s i g i t, MA
Summary by: Primaningtyas Nur Arifah (09313244004)

Till now, most of mathematics teacher still implementing traditional mathematics teaching method, taecher teach mathematics with expository relying on a single method with the cycle: explaining, giving examples, ask questions and give the task in the classical.
Using this method, mathematics teachers have difficulty in: 1) serve students various needs / demands when learning mathematics, 2) encouraging low achiever student to improve their academic achievement, 3) encourage students to learn actively, 4) use and develop mathematical aids 5) encourage students to learn together.
Development of learning methods refers to recommendation of Cockroft Report (1982, 243, p. 198) which states that at every level of mathematics learning should be a vehicle for teachers to be able to realize the selection of one or several methods as dynamic and flexible: (1) Eskposition Method, ( 2) Discussion Method, (3) Exercise and Granting Duty Method, (4) Discovery Method, (5) Problem Solving Method, (6) Usage Viewer Tool.
Action research aims to develop a method of mathematics learning that can meet the wide range of students academic demands, improving learning achievement, encouraging students to actively learn, develop and encourage cooperation props. This action research confine himself within the scope of the teacher's teaching style that reflected by the learning model developed in a particular class at a given time period as well.
Development of mathematical learning models through action research to overcome the difficulties of teachers service to students give a positive impact, but in actual experience obstacles both technical, academic, and socio-cultural.
Teachers effort when meeting the wide range of students academic demands, encourage low achievers students to improve their achievement, encourage students to learn actively, and encourage students to learn through collaboration.
In the effort to develop a model of learning can be concluded that in general, teachers have sought to develop learning methods that accordance with the purpose of action research; but teachers experiencing technical, academic, and fundamentals difficulties. Teachers technical difficulties in developing teaching methods there is not enough learning equipment or facilities that necessary needed.
Teachers academic difficulties in developing teaching methods are incompatibility of  teachers perception about the meaning of mathematical learning model with the learning model referred in accordance with the theory.


KULIAH BAHASA INGGRIS PENDIDIKAN MATEMATIKA 1 (8)


The Effort to Increase the Student’s Motivation
in Mathematics Learning with Some Teaching Aids
in Junior High School 5 Wates, Kulon Progo, Yogyakarta, Indonesia
Oleh: Dr. Marsigit, MA
Ikhtisar oleh: Primaningtyas Nur Arifah (09313244004)

Keberhasilan proses belajar mengajar Matematika tidak jauh dari peran guru sebagai informator, komunikator, dan fasilitator. Metode mengajar yang digunakan oleh guru bisa diartikan sebagai interaksi antara guru, siswa, dan prestasi belajar. Sampai sekarang, kita masih mendengar banyak siswa yang mengeluh bahwa matematika dipandang sebagai mata pelajaran yang menakutkan, tidak menarik, dan sulit, juga tidak terkait dengan kehidupan sehari-hari.
Salah satu upaya guru dalam meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran matematika di Sekolah Menengah Pertama adalah dengan membuat proses belajar mengajar matematika menjadi menyenangkan, menarik, dan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Memaksimalkan (optimalizing) penggunaan beberapa alat bantu pengajaran dan alat peraga diharapkan dapat membantu proses abstraksi siswa, yang meliputi kesulitan siswa dalam belajar.
Sikap siswa dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu internal dan eksternal (Winoto Putro, 1993:33). Aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar juga dipengaruhi oleh dua faktor di atas. Pada faktor eksternal siswa, guru harus memotivasi siswa, seperti yang diungkapakan Ki Hajar Dewantoro: "Ing Madyo Mangun Karso" yang berarti guru yang harus mendorong motivasi siswa (Mugiharso, 1993) dan "Tut Wuri Handayani" yang berarti guru harus tetap berdiri di belakang dan membiarkan siswa untuk menemukan konsep mereka menggunakan cara mereka sendiri, tapi guru harus memberikan koreksi jika diperlukan.
Untuk mengetahui apakah alat bantu mengajar dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, diadakan penelitian di SMP 5 Wates, Kulon Progo, Yogyakarta, Indonesia. Hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan dengan menggunakan beberapa alat bantu pengajaran menunjukkan bahwa keaktifan siswa dalam mengerjakan worksheet meningkat dalam sesi tanya jawab dan diskusi; ada begitu banyak siswa yang mengacungkan tangan mereka. Dapat disimpulkan bahwa alat bantu mengajar dapat  meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga siswa dapat lebih aktif dalam proses belajar mengajar dikelas.

Selasa, 20 September 2011

MAKNAILAH,,,,, : )

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,
aku bermimpi ingin mengubah dunia.
Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,
kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.
Maka cita-cita itu pun agak kupersempit,
lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.
Namun tampaknya, hasrat itupun tiada hasilnya.
Ketika usiaku semakin senja dengan semangatku yang masih tersisa,
kuputuskan untuk mengubah keluarga,
orang-orang yang paling dekat denganku.
Tetapi celakanya,
merekapun tidak mau diubah!
Dan kini,
sementara aku berbaring saat ajal
menjelang,
tiba-tiba aku sadari :
“andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku,
Maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan,
mungkin aku bisa mengubah keluargaku.
Lalu berkat inspirasi dan dorongan
mereka,
bisa jadi aku pun mampu memperbaiki
negeriku,
Kemudian siapa tahu aku bahkan bisa mengubah dunia !”
Terukir di sebuah makam di Westminter Abbey, Inggris, 1100 M